Salah satu hikmah datangnya kesedihan yang silih berganti bagi orang beriman adalah agar kejadian itu menguatkan hati dan jiwanya sehingga mampu berlapang dada, tak lagi bersedih hati, dan menerima takdir ilahi dengan hati yang tunduk...
Allah ta'ala berfirman,
فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِكَيْلَا تَحْزَنُوا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَا أَصَابَكُمْ ۗ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"...karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [Ali Imran: 153]
Pedagang asongan yang mestinya sedih karena dihina. Namun beliau tidak menampakkan kesedihannya, karena memang sudah terbiasa sedih...
Seorang pendakwah dan ahli ibadah juga semestinya tidak merasa sedih, karena kemiskinan, sering dibully, diboikot dan bahkan difitnah...
Mereka mestinya sudah terbiasa menerima keadaan seperti itu...
Andaikan ada pendakwah dan ahli ibadah yang malah mencari kemewahan dunia, memasang tarif tinggi, merasa hebat dengan ilmu dan ibadahnya...
Maka ketahuilah, dari dulu para Nabi, pendakwah dan ahli ibadah selalu mendapatkan kesulitan dan perundungan...
Mereka selalu meminta dan berdoa hanya kepada Allah, terhadap segala hal, termasuk kesulitan yang mereka alami, perundungan hingga kekurangan harta untuk mencukupi kebutuhan mereka...
Bukan malah mematok tarif tinggi, komersial, ataupun meminta-minta kepada sesama dalam berdakwah...
Jika ingin kaya raya dengan kemewahan dunia, ya harus fokus dan profesional ngurusi dunia ...
Dan jangan malah menjual agama untuk dunia ...
al-A'masy meriwayatkan kepada kami, dari Khaitsamah, dari al-Hasan, ia berkata:
"Aku dan 'Imran bin Al-Hushain berjalan melewati seorang laki-laki yang sedang membaca surah Yûsuf".
'Imran pun mendengarkan bacaannya.
Maka ketika selesai membaca, orang itu meminta upah.
Lalu 'Imran bin Al-Hushain berkata, "Innâ lillâhi wa inna ilaihi räji'ûn."
Dan mengatakan :
"Pergilah, karena aku mendengar Rasulullah bersabda,
"Barangsiapa membaca al- Qur'an, hendaklah ia memohon kepada Allah. Karena nanti akan ada satu kaum yang membaca al-Quran, dengannya mereka meminta upah kepada manusia." (HR. At-Tirmidzi : 2917)
(Kitab Akhlaq Hamalatil Qur'an Lil Imam Abu Bakr Al-Âjurri, Tahqiq 'Adil Alu Hamdan, halaman : 94)
Beliau mengatakan , "Innâ lillâhi wa inna ilaihi räji'ûn. Kalimat tersebut diucapkan ketika mendapatkan musibah dan hal ini yang beliau lihat merupakan musibah yang besar yaitu melihat seseorang yang membaca Al-Qur'an - boleh jadi suaranya yang bagus itu, agar manusia berkumpul dan mendengarkan bacaannya, apabila telah selesai, dia mengatakan : "Berilah aku harta".