Menyembunyikan dosa itu bukan sok suci atau munafik, tapi malu kepada Allah...
Bermaksiat secara terang-terangan dan malah bangga, itu bukan jujur, tapi kurang ajar dan menantang Allah...
Seorang Mukmin hendaknya...
Merasa iba dengan penderitaan orang,
Merasa sedih dengan kesulitan orang,
Dan merasa cukup diantara orang orang yang kekurangan,
Jangan sombong saat kamu berada diatas,dan jangan rendah diri saat duniamu ada dibawah,
Ingatlah, kehidupan manusia berputar sesuai takdir yang sudah ALLAH gariskan...
Lisan yang baik itu istiqamah berdzikir. Hingga hatinya juga istiqamah...
“Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga.”
(HR. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13).
Al-lmam Hasan Al-Bashri Rahimahullah Berkata:
"Wahai para pemuda, wajib bagi kalian untuk mengejar negeri akhirat. Kami banyak melihat orang yang mengejar akhirat dia mendapatkan pula dunianya.
Namun kami tidak melihat ada seseorang yang mengejar dunia tapi dia mendapat akhirat bersama dunianya." (AI Baihaqi; Kitab Az-Zuhd No.12)
Jika sesuatu itu penting, kita pasti menyiapkan waktu terbaik untuknya.
Begitu pula dengan shalat. Ia bukan sekadar kewajiban yang dilakukan sekadarnya, tetapi simbol ketundukan, cinta, dan penghormatan kepada Allah. Menyisihkan waktu untuk datang lebih awal sebelum iqamah bukan hanya soal disiplin waktu, tetapi cerminan hati kita memuliakan ibadah ini.
Berkata Sufyan ats-Tsauri rahimahullah,
"Kedatanganmu (di masjid) sebelum iqamah dikumandangkan adalah satu bentuk pemuliaanmu terhadap ibadah shalat." (Fathul Bari karya Ibnu Rajab 3/533).
Bayangkan, ketika kita memiliki janji dengan seseorang yang kita hormati, tentu kita berusaha hadir lebih awal. Lalu, bagaimana dengan janji pertemuan kita dengan Allah? Sudahkah kita mempersiapkannya dengan waktu yang terbaik?
Mari jadikan shalat bukan hanya tentang menggugurkan kewajiban, tetapi sebuah kehormatan yang kita syukuri setiap hari. Semakin awal kita datang, semakin terasa nikmatnya beribadah kepada-Nya.
Semua yang kita cintai, pasti akan kita tinggalkan...
Atau mereka yang akan meninggalkan kita...
Atau Allah yang akan memisahkan kita dengan yang kita cintai...
Yaitu dengan Kematian ..!
Karena itu, ajaklah mereka sholat, dan amal baik lainnya...
Karena dengan amal baik itu, kita akan tetap bersama mereka di Surga..
Allah tidak meminta kita untuk menaklukkan dunia...
Akan tetapi Allah menghendaki supaya kita mampu menaklukkan diri kita sendiri...
Yakni bersedia taat atas semua syariat-Nya dan ridha atas apapun kehendak-Nya...
Karenanya, jika hidup yang kita jalani terasa tidak sesempurna seperti harapan kita...
Manakala kesuksesan yang kita angan²kan belum bisa diraih... Tatkala keadaan belum memuaskan nafsu dan keinginan kita...
Semua itu tak seharusnya membuat kita risau...
Selagi Allah ridha, sungguh itu melebihi batas segala kebaikan...
Tugas kita adalah berbuat baik tanpa harus menunggu orang lain berbuat baik pada kita...
Bila orang lain berbuat baik pada kita balaslah perbuatan itu dengan kebaikan...
Namun bila ada orang yang tidak mau berbuat baik pada kita jangan menodai diri dengan membalas dengan keburukan yang setimpal...
Berikanlah yang terbaik dari diri kita....
Pada akhirnya, kita tahu bahwa ini adalah urusan antara kita dan Allah....
Ini bukan urusan antara kita dan mereka...
Dan berikanlah yang terbaik untuk Allah, niscaya Allah akan memberikan balasan terbaik untuk kita yang tidak kita sangka-sangka...
Ada orang-orang yang selalu memiliki 1001 alasan untuk menemukan kekurangan kita...
Orang-orang itu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari kejelekan dan kesalahan kita...
Dan orang² itu juga yang telah menghabiskan sisa usianya dengan menceritakan aib kita...
Tidak perlulah kita sakit hati dengannya...
Biarkan saja, toh memang kita ini manusia yang penuh dengan kekurangan dan kesalahan...
Bahkan jika kita renungkan, aib yang nampak dan dibuka oleh mereka itu masih jauh lebih sedikit...
Dibandingkan dengan aib-aib yang telah Allah tutupi selama ini...
Jika sudah begitu, kita tidak akan lagi merasa sakit hati kepada si pembenci, apalagi hingga terlintas untuk membalas, dengan membuka aib yang kita ketahui ada padanya...
Ketahuilah, sesungguhnya pembencimu adalah dia, yang selalu memiliki waktu untuk memperhatikan segala tingkah laku kita...
Dialah yang mampu mengoreksi hasil kinerja kita...
Meski dengan cara pandang yang berbeda...
Kita tinggal introspeksi diri, lalu kembali ke jalan Allah...
Sambil menunggu limpahan pahala dari orang lain, yakni dari penyebar aib kita...