Jumat, 25 November 2011

Ada yang mengatakan keburukan internet. Katanya gak baiklah, radikal-lah, menjadikan teroris-lah, dan masih banyak lagi.
SubhanAllah ...
Sekarang saya katakan, internet itu alat, seperti halnya buku. Buku juga alat, yakni alat untuk menyebarkan tulisan, gambar dan masih banyak lagi menggunakan media kertas.
Dengan kata lain, saya katakan internet itu Buku yang Berjalan!
Baik-buruknya tergantung si penulis!
Bertemu muka (face to face) itu memang lebih handal untuk kebaikan, namun bisa juga menjadi sebaliknya.
Menurut informasi, bertatap muka lebih handal dalam menyampaikan sesuatu. Hipnotis dan sejenisnya akan ampuh jika bertemu langsung. Kalau ternyata ketemu dengan guru atau ustadz teroris yg sebenarnya, kemudian di hipnotis atau di cuci otak, maka bisa dipastikan ia akan menjadi murid teroris yang jauh lebih patuh daripada sekedar membaca di internet.
Karena itu, mencari guru dan ustadz yang baik itu wajib, sebagai filter awal atau dasar ilmu kebaikan, namun janganlah menyalahkan internet, karena dengan internet ilmu bisa berkembang dengan sangat cepat, pengetahuan bisa lebih luas, dakwah yang baik dengan penulis yang baik pula, akan menjadikan cepat tersebarnya kebaikan di dunia ini ...
Andaikan para penulis yang baik "mogok" tidak mau menulis kebaikan atau dakwah di internet, maka internet akan di isi oleh semua keburukan, pornografi dan juga liberalis ...
Maka, apakah anda akan mengatakan "jangan meng-akses internet", yang otomatis mengatakan "tidak usah sekolah" karena sekolah s1, s2 dan s3 itu wajib mengakses internet ...
Wahai para ustad yang anti internet, yg mengatakan keburukan dan radikalisme itu dari internet, coba pikirkan sekali lagi, radikalisme yang sesungguhnya itu dari internet atau dari berguru (tatap muka) dengan orang yang SALAH ???

Jumat, 18 November 2011

Kalo qt perhatikan, ketika seseorang meregang nyawa, dapatkah qt menghambatnya dng segala teknologi dan kemampuan yg ada ?
Dapatkah qt menahan ruh itu dan mengembalikannya lagi ?
Kalo demikian siapakah sebenarnya yg berkuasa atas diri seseorang ?
Dirinya sendirikah? atau siapakah?

Ketika tangan robot mengambil suatu barang, beberapa mekanik bergerak untuk mencengkeram barang itu kemudian memindahkannya ...
Siapakah yg mengendalikan tangan robot itu? tentunya manusia pembuatnya yg mengendalikan ....

Ketika tangan qt mengambil suatu barang, otot2 manakah yg bekerja? qt kah yg mengaturnya dan mengendalikannya? padahal itu adalah tangan qt? Kalo tangan qt,dan qt yg berkuasa, tentunya qt tahu otot2 mana saja yg kita suruh unt bekerja, tp kenyataannya, pernahkah qt tahu ?

Betapa sulitnya seorang peneliti unt membuat robot yg dapat bekerja mirip manusia .....
Nah, sekarang seberapa sulitnya bagi Pembuat manusia spy manusia tsb dapat bekerja dng sempurna, menurut perhitungan manusia ?

Sungguh, seorang hamba yg berilmu (dunia) mestinya lebih takut dan jauh lebih mudah bersyukur kepada Pembuat dirinya sendiri yaitu Allah SWT, tp kenyatannya .... ?

Jumat, 11 November 2011

Tentang Takwa dan Infaq:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yg beriman, Bertakwalah kalian kepada Allah dng sebenar-benar takwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dlm kedaan Muslim". (QS Ali Imran 102)

Penjelasan Ali Imran 102:
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Sa'id ibnu Jubair bahwasanya ketika turun ayat ke 102 pd surah Ali Imran ("Bertakwalah kalian kepada Allah dng sebenar-benar takwa kepadaNya"), segolongan kaum muslimin merasa berat untuk melaksanakan takwa yg sebenarnya itu. Kemudian turunlah ayat 16 pd surah At Tagabun, yg menjelaskan bahwa bertakwa adalah semampu seseorang unt melaksanakannya.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْراً لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah, dan infakkanlah harta yg baik untuk dirimu. DAn barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yg beruntung"

"Jika kamu meminjamkan kepada Allah dng pinjaman yg baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun" (QS. At Tagabun 16-17)

Penjelasan Surah At Tagabun 16-17:
Bertakwa adalah semampu seseorang unt melaksanakannya. Namun semakin tinggi takwa seseorang semakin beruntunglah ia, dimana semua tindak-tanduknya didunia selalu diridloiNya. Selalu ditolong Allah apapun kesulitannya, dan selalu mendapatkan ampunan dan rahmatNya.
Sedangkan dengarlah serta taatlah, maksudnya dengar dan taatilah Rasulullah SAW, sebagaimana dalam Hadits, dari Abu Hurairah r.a, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda,"Apa yg aku larang jauhilah, dan apa yg aku perintahkan kerjakanlah sampai batas kemampuanmu (batas kesanggupanmu). Sesungguhnya Allah telah membinasakan orang2 sebelum kamu disebabkan terlalu banyak menuntut dan menentang nabi2Nya." (HR. Bukhary, 6858)

Gembirakanlah orang lain dalam beragama, dan jangan mempersulit, sesungguhnya semua amal baik dan ketakwaan kita akan sampai ketujuan, yaitu dengan ridlo Allah...
Menginfakkan harta benda pada hakikatnya adalah untuk kebaikan diri sendiri. Dengan menginfakkan harta yg baik (diibaratkan dng meminjamkan kepada Allah) niscaya Allah akan melipat-gandakan balasannya untuk manusia.
Dan Allah Maha Mensyukuri maksudnya, Allah Maha Membalas dng kebaikan yg berlipat-lipat bagi hambaNya (tanpa perhitungan) yg mau melakukan kebaikan.
Sedangkan Allah Maha Penyantun maksudnya, Allah Maha Sabar Menunggu hamba-hambaNya untuk berbuat kebaikan dng menunda SiksaNya.... Wa Allahu'alam... Subhanallah...