Jumat, 26 Juni 2026

 Terkadang kita lebih hebat menilai kekurangan orang lain daripada kekurangan diri sendiri... 

Padahal, kalau kita mau jujur, kekurangan kita jauh terlihat lebih banyak jika kita menggunakan cermin terbaik...

Ingatlah cermin terbaik itu hati kita sendiri...

Cermin terbaik itu bebas kotoran, bebas debu, dan bebas dari segala sesuatu yang dapat menghalangi kemampuan cermin itu...

Demikian juga hati yang baik...

Semakin baik hati seseorang, maka ia bebas dari segala penyakit hati yang dapat mengotorinya...

Hasad, hasud, iri, dengki, riya, pamer, itu beberapa contoh penyakit hati...

Sebagai seorang muslim, tugas kita bukanlah menjadi hakim atas hidup orang lain...

Tugas kita adalah memperbaiki diri, menambal kekurangan, dan menutup aib kita sendiri...

Dengan bantuan hati, semua aib diri sendiri dapat terlihat, sehingga dapat diperbaiki dan ditambal dengan baik ...

Karena itu, jujur saja, siapa sih yang tidak punya aib...? 

Siapa sih yang tidak punya dosa dan kesalahan...?

Kita semua pasti punya sisi gelap, suatu cerita yang tidak ingin diketahui orang lain... 

Bukankah Allah Maha Penyayang karena masih menutupi semua itu...?

Bayangkan, andaikan Allah langsung membongkar aib kita setiap kali kita salah, mungkin kita sudah tidak punya muka untuk berhadapan dengan siapa pun...

Tapi Allah tidak demikian, karena Dia masih memberikan waktu supaya kita sadar, introspeksi, dan berubah menjadi lebih baik...

Jadi, kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama ke orang lain...?

Fokuslah memperbaiki diri...

 Jangan biarkan waktumu habis untuk mempermasalahkan orang lain... 

Karena pada akhirnya, yang Allah tanyakan kepada kita kelak, bukanlah aib mereka, tapi aib kita, hasil perbuatan kita sendiri...

"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang sangat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." ( Surah An-Nur :19)


Jumat, 19 Juni 2026

 Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun..

Seorang mukmin apabila ia ditimpa ujian dan cobaan hidup, niscaya dia akan bersabar...

Dia yakin, bahwa dibalik itu terkandung hikmah yang mendalam dari sisi Allah...

Rasulullah Salallahu a'laihi wassallam bersabda :

" Aku benar benar takjub kepada perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya itu baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun, kecuali seorang mukmin.

Yakni, bila dia ditimpa sesuatu yang menyenangkan, niscaya dia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan apabila dia ditimpa sesuatu yang menyengsarakan, niscaya dia bersabar, maka itu juga baik baginya".

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim.


Sebaliknya orang yang tidak beriman, ketika ditimpa ujiannya dan cobaan hidup, maka dia mengira itu bagian dari sebab-akibat saja... 

Dia lupa bahwa takdir adalah milik Allah... 

Sebelum dan sesudah terjadinya...

Cobaan yang menimpanya bukanlah suatu kebetulan, namun itu adalah kehendak Allah...

Ujian dan cobaan merupakan bukti cinta Allah kepada manusia...

Rasulullah Salallahu a'laihi wassallam bersabda :

" Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, niscaya Dia akan menimpakan cobaan dan musibah padanya ( untuk membersihkannya dari dosa-dosanya dan memberikan pahala untuknya )".

Diriwayatkan oleh Al Bukhari, Ahmad dan Malik.

Jumat, 12 Juni 2026

 

Hari Kiamat adalah hari yang besar. Hari dimana orang taat dan pelaku maksiat keduanya menyesal. Mereka yang taat menyesal, kenapa dulu tidak beramal lebih banyak dari apa yang telah dilakui. Pelaku maksiat, sesal mereka adalah sesal yang tak terperi. ‘Sekiranya kami dulu mendengarkan dan merenungi, tentu kami tidak menjadi penghuni neraka ini’, kata mereka.

Ada sebuah kisah, yang mengingatkan kita akan besarnya pertanggung-jawaban di hari Kiamat. Kisah tersebut tentang sahabat Nabi ﷺ yang bernama Abu Darda radhiallahu ‘anhu dengan seekor ontanya.

Abu Darda memiliki seekor onta yang ia beri nama Damun. Tidak pernah ia letakkan suatu barang yang tidak mampu dibawa oleh onta itu. Apabila ada seorang yang meminjam si onta, Abu Darda berpesan, ‘Engkau hanya boleh membawa barang ini dan ini padanya, karena ia tidak mampu membawa yang lebih banyak dari itu’.

Ketika serasa ajal hendak datang menjemputnya, Abu Darda memandang ontanya kemudian berkata, “Wahai Damun, jangan kau musuhi aku esok di hadapan Rabbku”, jangan kau tuntut aku pada hari Kiamat kelak di hadapan Rabbku wahai Damun, begitu kiranya kata Abu Darda. “Karena demi Allah, aku tidak pernah membebankan kepadamu kecuali yang engkau sanggupi”, tutupnya.

Semoga Allah ﷻ meridhai Abu Darda, dan mengampuni kesalahannya.

Tentu kita teringat akan diri kita. Suami akan teringat kepada istrinya, dan istri merenungkan adakah kata yang telah membebankan suami.

Adakah kita sebagai suami memberi beban yang tidak mampu diemban istri?

Adakah kita sebagai istri menuntut sesuatu yang terasa berat bagi suami?


Adakah kita mengusahakan sesuatu di dunia ini, yang nanti kita akan menyesali “Seandainya dulu aku tidak melakukan hal ini…”


Abu Darda radhiallahu ‘anhu, seorang yang shaleh, menghisab dirinya atas ontanya, tentu kita lebih layak lagi berkaca dan mengoreksi diri.

Wahai Damun, jangan kau musuhi aku esok di hadapan Rabbku. Karena demi Allah, aku tidak pernah membebankan kepadamu kecuali yang engkau sanggupi.

Kisah Abu Darda ini diambil dari potongan khotbah Jumat Syaikh Shalih bin Thaha Abdul Wahid


Jumat, 05 Juni 2026

 

Dunia bukanlah tempat tinggal yang kekal, dan itu pasti...

Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan bahwa dunia akan berakhir dan semua penghuninya bakal meninggalkannya...

Kebanyakan manusia senang berlomba-lomba membangun apa saja, yang sesungguhnya semua itu hanya sementara, pasti akan rusak binasa dan juga pasti akan ditinggalkan...

Semua yang nampak ini pasti akan kita tinggalkan, karena itu persiapkan perjalanan panjangmu dengan membawa bekal yang terbaik...

Dan sesungguhnya bekal yang terbaik adalah iman dan taqwa...

Karena dunia ini bukan tempat tinggal yang abadi, maka sebaiknya seorang mukmin menjadi orang yang asing...

Yang selalu mencurahkan perhatiannya untuk kembali ke tempat asalnya...